Kamis, 15 Mei 2008

Vibro lagi.....

ABSTRACT

The efforts of conventional EOR methods to lift up oil from reservoir still remain about 50% OOIP. This is a challenge to find another method which can increase oil RF (recovery factor). For the last few years, many researches try to explain the mechanism of vibration stimulation in saturated porous media. The capable of vibroseismic method to diminish capillary forces, IFT (interfacial tension) between fluid and rock, increase porosity and permeability, and increase oil mobility are mechanisms that occur because of stimulation vibration.
Previous result showed the increase of RF, porosity, permeability, and decreasing of Sor using S-wave type (circular mode; TM-ITB Vibroseismic Apparatus). Recently, the equipment has developed not only circular mode (S-wave type) as a previous result but also axial mode (P-wave type). This experiment used synthetic core with low to fair permeability on 15 Hz frequency. The RF increment reached 4.2 %, Sor decrease 4.4% using P-wave type. Low permeability needs higher energy or amplitude than high permeability.
Results:





Senin, 07 April 2008

Kearifan Emas

Seorang Pemuda mendatangi Zun-Nun dan bertanya, “Guru, saya tidak mengerti mengapa orang seperti Anda mesti berpakaian apa adanya, amat sangat sederhana. Bukankah dimasa seperti ini berpakaian sebaik-baiknya amat perlu, bukan hanya untuk penampilan melainkan juga untuk banyak tujuan lain.”

Sang Sufi hanya tersenyum. Ia lalu melepaskan cincin dari salah satu jarinya, lalu berkata, “Sobat muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi terlebih dahulu lakukanlah suatu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar diseberang sana. Bisakah kamu menjualnya seharga satu keping emas?”

Melihat cincin Zun-Nun yang kotor, pemuda tadi merasa ragu, “satu keeping emas? Saya tidak yakin cincin ini bisa terjual seharga itu.”

Cobalah dulu, sobat muda. Siapa tahu kamu berhasil.”

Pemuda itu pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang kain, pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada yang lainnya. Ternyata, tak satupun yang berani membeli seharga satu keping emas. Mereka menawarnya hanya satu keping perak. Tentu saja, pemuda itu tak berani menjualnyadengan harga satu keping perak. Ia kembali ke padepokan Zun-Nun dan melapor, “Guru, tak seorang pun berani menawar lebih dari satu keping perak.”

Zun-Nun, sambil tetap tersenyum arif, berkata,”Sekarang pergilah kamu ke toko emas dibelakang jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas disana. Jangan buka harga, dengarkanlah saja bagaimana ia memberikan penilaian.”

Pemuda itu pun pergi ke toko emas yang dimaksud. Ia kembali kepada Zun-Nun dengan raut wajah yang lain. Ia kemudian melapor,” Guru, ternyata pedagang di pasar tidak tahu nilai sesungguhnya cincin ini. Pedagang emas menawarnya dengan harga seribu keping emas.”

Rupanya nilai cincin ini seribu kali lebih tinggi daripada yang ditawar oleh para pedagang di pasar.”

Zun-Nun tersenyum simpul sambil berujar lirih,”Itulah jawaban atas pertanyaanmu tadi sobat muda. Seseorang tak bisa dinilai dari pakaiannya. Hanya “para pedagang sayur, ikan dan daging di pasar” yang menilai demikian. Namun tidak bagi “pedagang emas”.

Emas dan permata yang ada didalam diri seseorang hanya bisa dilihat dan dinilai jika kita mampu melihat kedalam jiwa. Diperlukan kearifan untuk menjenguknya. Dan itu butuh proses, wahai sobat mudaku. Kita tak bisa menilainya hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita dengar dan lihat sekilas. Seringkali yang disangka emas ternyata loyang dan yang kita lihat loyang ternyata emas.”

Senin, 25 Februari 2008

Pergumulan bersama Vibro

Apa itu VIBRO? kok mau-maunya bergumul dengan tuh benda.
Sudah lama bergaul? apa yang mau didapat? harta karun?
Pertanyaan yang membuat lemah.

Ceritanya begini.
Duduk di kereta api Bandung - Jakarta dengan P' Gunawan, akan presentasi penawaran project didaerah Kuningan Jakarta. (Sudah beberapa kali mengerjakan "tugas" yang diberikan P Gun). Klo project berhasil, duit yang ga seberapa ini mo diapakan? Sebenarnya tidak terpikirkan untuk lanjut S2 karena sejak lulus kuliah otak ini sudah tak mau diajak berfikir. Pas duduk dengan "the great man" ini sekilas telintas untuk coba-coba ngomong keinginan yang tak terpikirkan ini. Beliau menyarankan ambil S2 di Tambang atau Minyak. Langsung memilih Minyak. Jadi deh daftar ke S2 minyak 2005, sambil tetap bekerja (2 tahun terakhir "ngeproyek" di lapi ITB)

Singkat cerita, kuliah 2 tahun+Thesis. Kuliah dah selesai kok ya Thesis ga kelar. Salah Dosen? ENGGA!
MALAS? Ada juga, tapi sebagai pembelaan diri, kuliah sambil kerja emang sulit juga ya.
Menghadap Pembimbing minta topik, setelah 2 kali berubah, akhirnya dipilih topik VIBRO-SEISMIK.
Ternyata, topik ini adalah hal yang baru dalam dunia perminyakan. Ga banyak peneliti yang mau "bergumul" dengan ni ilmu. Meneruskan pekerjaan rekan S2 lain yang belum tuntas, dengan gagah berani "awak" melanjutkan Vibro ini.
Pikiran pertama yang muncul, jika alat ini selesai dibuat, langsung tancap gas ambil data dilaboratorium, olah data, analisa.... selesai thesis.
Bah! Memang hidup tak selalu sesuai dengan keinginan.
Sudah alat selesai, mesti di desain lagi biar bisa sempurna dipasang. alamakkk......
Horeee... alat selesai.
Mau mengambil data, mesti nyiapin bahan-bahannya. Mesti buat core sintetis, buannyaaakkkk.
Ada panduan buat core, komposisinya sudah ada.
Waktu sudah jadi & diukur posrositas dan permeabilitasnya ga sesuai keinginan. SALAH buat core!!
Sudah 3 minggu hanya mempersiapkan core tapi belum jadi juga.
Meminjam istilah Peggy : Pusingggg..................
Hmmmm.... ada apa ini?
Ohh.... hidup memang mesti mengalir.... kalaupun ada batu yang menghalang terlalu besar, belokkan aja dikit trus jalan lagi, begitu seharusnya.
Lagian ada ada pepatah:
"If The Going Get Rough
Only The Tough Get Going"
Maju Terus Pantang Mundur !